Thursday, May 21, 2009

forensik KDRT

karna ni blog gw bikin di satse forensik, jd gw masukin deh...

TINJAUAN PUSTAKA


I. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Definisi Kekerasan Dalam Rumah Tangga berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Kekerasan fisik
Adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. (Pasal 6)

Kekerasan psikis
Adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. (Pasal 7)

Kekerasan seksual :
  1. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam rumah tangga tersebut;
  2. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersil dan/atau tujuan tertentu. (Pasal 8)

II. KETENTUAN PIDANA
II.1 Ketentuan Pidana Kekerasan Terhadap Rumah Tangga Berdasarkan Undang-Undang No.23 Tahun 2004
  1. Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).
  2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah).
  3. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp 45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah).
  4. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).
Hak-Hak Korban diatur dalam Undang-Undang No. 23 Bab IV Pasal 10 Korban berhak mendapatkan:
  1. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat, lembaga sosial, atau pihak Iainnya, baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan;
  2. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis;
  3. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
  4. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
  5. Pelayanan bimbingan rohani.

Perlindungan Terhadap Korban diatur dalam Undang-Undang No. 23 Bab VI Pasal 16
  1. Dalam waktu 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak mengetahui atau menerima laporan kekerasan dalam rumah tangga, kepolisian wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban.
  2. Perlindungan sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan paling lama 7 (tujuh) hari sejak korban diterima atau ditangani.
  3. Dalam waktu 1 x 24 (satu kali dua puluh empat) jam terhitung sejak pemberian perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.
Pemulihan Terhadap Korban diatur dalam Undang-Undang No. 23 Bab VII Pasal 39 Untuk kepentingan pemulihan, korban dapat memperoleh pelayanan dari:
  1. Tenaga kesehatan;
  2. Pekerja sosial;
  3. Relawan pendamping; dan/atau
  4. Pembimbing rohani.

II.2 Ketentuan pidana berdasarkan KUHP
Kualifikasi luka dibahas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yaitu bab XX pasal 351 dan 352 serta bab IX pasal 90:
  • Pasal 351
  1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah
  2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun
  3. Jika mengakibatkan mati, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun
  4. Dengan penganiayaan disamakan dengan sengaja merusak kesehatan
  5. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana
  • Pasal 352
  1. Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencahariaan, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan itu terhadap orang yang bekerja padanya, atau menjadi bawahannya.
  2. Percobaan untuk melakukan ini tidak dipidana
  • Pasal 90
Luka berat berarti :
  • Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya maut
  • Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencahariaan
  • Kehilangan salah satu panca indera
  • Mendapat cacat berat
  • Menderita sakit lumpuh
  • Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih
  • Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan

Dari pasal-pasal tersebut maka penganiayaan dibagi menjadi 4 jenis tindak pidana, yaitu:
1. Penganiayaan ringan
2. Penganiayaan
3. Penganiayaan yang mengakibatkan luka berat
4. Penganiayaan yang mengakibatkan kematian

Penganiayaan ringan yaitu penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencahariaan. Penganiayaan ringan digolongkan sebagai luka derajat satu. Bila akibat suatu penganiayaan seseorang mengalami penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencahariaan yang sifatnya sementara waktu maka digolongkan menjadi luka derajat dua. Bila penganiayaan yang dilakukan mengakibatkan luka berat seperti dalam pasal 90, maka luka tersebut digolongkan menjadi luka derajat tiga.

Oleh karena istilah “penganiayaan” merupakan istilah hukum, yaitu “dengan sengaja melukai atau menimbulkan perasaan nyeri pada seseorang”, maka didalam Visum et Repertum yang dibuat dokter tidak boleh mencantumkan istilah penganiayaan, karena itu merupakan urusan hakim. Demikian pula dengan menimbulkan perasaan nyeri sukar sekali untuk dapat dipastikan secara objektif, maka kewajiban dokter di dalam membuat Visum et Repertum hanyalah menentukan derajatnya.

Dengan demikian di dalam penulisan kesimpulan Visum et Repertum kasus-kasus perlukaan, penulisan kualifikasi luka adalah sebagai berikut:
  1. Luka yang tidak mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan
  2. Luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau jabatan untuk sementara waktu
  3. Luka yang termasuk dalam pengertian hukum “luka berat” (pasal 90 KUHP)
III. PERLUKAAN AKIBAT KEKERASAN TUMPUL

Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas kekerasan yang bersifat mekanik, fisika dan kimia. Kekerasan akibat benda tumpul berdasarkan sifatnya termasuk kedalam kekerasan yang bersifat mekanik. Luka yang terjadi akibat kekerasan benda tumpul dapat berupa luka memar (kontusio, hematom), luka lecet (ekskoriasi, abrasi), dan luka terbuka atau luka robek (vulnus laseratu).

a. Luka Memar
Luka memar adalah suatu keadaan dimana terjadi pengumpulan darah dalam jaringan bawah kulit (kutis) karena pecahnya pembuluh darah kapiler dan vena akibat kekerasan benda tumpul sewaktu seseorang masih hidup. Apabila kekerasan benda tumpul terjadi pada jaringan ikat longgar, seperti pada daerah leher, daerah mata atau pada orang yang sudah lanjut usia, maka luka memar yang terjadi kadang seringkali tidak sebanding dengan kekerasan yang terjadi, dalam arti seringkali lebih luas; adanya jaringan ikat longgar tersebut memungkinkan berpindahnya memar ke daerah yang lebih rendah, berdasarkan gravitasi.

Luka memar kadang kala memberi petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya. Salah satu bentuk luka memar yang dapat memberikan informasi mengenai bentuk dari benda tumpul ialah apa yang dikenal dengan istilah ”perdarahan tepi” (marginal haemorrhages).
Letak, bentuk, dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti besarnya kekerasan, jenis benda penyebab, kondisi dan jenis jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah dan penyakit.

Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah empat sampai lima hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam waktu tujuh sampai sepuluh hari, dan akhirnya menghilang dalam empat belas sampai lima belas hari. Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.

b. Luka Lecet
Luka lecet adalah luka yang superfisial, luka ini terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Luka lecet memiliki ciri-ciri bentuk luka tidak teratur, tepi luka tidak rata, kadang-kadang ditemui sedikit perdarahan, permukaan tertutup oleh krusta, warna kecoklatan merah, pada pemeriksaan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih ditutupi oleh epitel dan reaksi jaringan(inflamasi). Sesuai dengan mekanisme terjadinya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai :
  • Luka lecet gores, diakibatkan benda runcing yang menggeser lapisan permukaan kulit di depannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat.
  • Luka lecet serut, variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan permukaan kulit lebih besar.
  • Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit.
  • Luka lecet geser disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai gerakan bergeser.
Luka lecet memiliki arti penting dalam kedokteran kehakiman karena luka lecet tersebut dapat memberikan banyak petunjuk dalam banyak hal, misalnya :

Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat dalam tubuh, seperti hancurnya jaringan hati, limpa, atau ginjal, yang dari pemeriksaan luar hanya tampak adanya luka lecet didaerah yang sesuai dengan alat dalam tersebut.

Petunjuk perihal jenis dan bentuk dari permukaan benda tumpul yang menyebabkan luka. Misalnya pada luka lecet jerat, jejas jerat akan tampak sebagai suatu luka lecet yang berwarna merah kecoklatan, pada perabaan seperti perkamen dan gambaran cetakan sesuai dengan bentuk permukaan dari alat penjerat. Sedangkan pada kasus penjeratan menggunakan tangan (pencekikan) maka kuku-kuku pelaku dapat menimbulkan luka lecet yang berbentuk seperti bulan sabit, dimana dari arah garis lengkung dapat diperkirakan apakah pencekikan dilakukan menggunakan tangan kanan atau tangan kiri. Pada kasus penembakan, apabila moncong menempel pada tubuh korban, akan terdapat gambaran khas yaitu adanya ”jejas laras” yang merupakan luka lecet tekan. Pada kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban bersentuhan dengan radiator maka ditemukan luka lecet tekan akibat cetakan dari bentuk radiator.

Petunjuk dari arah kekerasan, dapat diketahui dari tempat dimana kulit ari yang terkelupas banyak terkumpul pada tepi luka.

c. Luka Terbuka atau Luka Robek
Luka terbuka adalah luka yang disebabkan karena adanya persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan dibawahnya. Ciri-ciri dari luka terbuka adalah bentuk luka tidak beraturan, tepi atau dinding luka tidak rata, tebing luka tidak rata, bila ditautkan tidak merapat karena terdapat jembatan-jembatan jaringan yang menghubungkan kedua tepi luka, akar rambut tampak hancur atau tercabut, disekitar luka robek sering tampak adanya luka lecet atau luka memar.

DAFTAR PUSTAKA
  • Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. UU RI No. 23 tahun 2004. Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia.
  • Budianto, A. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Cetakan 2. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik FKUI.
  • Idries, AM. 1989. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi 1. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
  • Soesilo, R. 1988. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Cetakan Ulang Kesepuluh. Poelita Bogor.

1 comment:

  1. menarik ya, cukup memotivasi.

    berkunjung kesini juga ya


    http://bantalsilikon01.blogspot.com
    http://kursusinternetmarketingmurah.blogspot.com
    http://bumbupecelbali.blogspot.com

    085-635-945-40

    ReplyDelete

mohon komentarnya yah...
kritik dan sarannya ditunngu...